Aktivis Lingkungan Goyang APEC

Para aktivis yang menaruh perhatian pada isu perubahan iklim mendobrak masuk ke sebuah stasiun pembangkit listrik Australia, Senin (3/9), seiring mulai dilancarkannya penyerbuan bergaya gerilya oleh para aktivis menjelang digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC),di Sydney, pada 8-9 September.[Sydney]

Empat aktivis lingkungan hidup bahkan nekat merantai tubuh mereka ke ban berjalan pengangkut batu bara di stasiun pembangkit listrik Loy Yang, di Negara Bagian Victoria, sehari setelah para aktivis menyerbu kapal NSS Endeavor yang mengangkut batu bara di sebuah pelabuhan dekat Sydney.Pembangkit listrik, yang memasok hampir sepertiga kebutuhan listrik di Victoria, mengurangi pasokan listriknya selama lima jam sebelum akhirnya rantai pengikat tubuh tiga laki-laki dan satu perempuan tersebut dilepaskan polisi. Empat aktivis itu pun ditahan, ungkap seorang juru bicara pemerintah negara bagian Victoria. Michaela Stubbs, juru bicara para aktivis, mengatakan sejumlah unjuk rasa yang lain juga telah direncanakan untuk menentang industri pengguna bahan bakar fosil. Aksi dilancarkan untuk menekankan kesadaran pentingnya pengurangan emisi gas rumah kaca yang dituding bertanggung jawab atas pemanasan global. Demonstrasi-demonstrasi itu dirancang untuk mengirimkan pesan kepada 21 pemimpin yang hadir dalam pertemu-an tahunan APEC di Sydney pekan ini.
“Kita ingin melihat tindakan nyata saat ini. Target-target mereka yang aspirasional dan tanpa komitmen benar-benar tidak memadai untuk menghentikan perubahan iklim yang membahayakan,” kata Michaela. Pemanasan global merupakan isu yang menonjol dalam agenda KTT. Tetapi, Perdana Menteri Australia John Howard menegaskan, KTT kali ini tidak akan menghasilkan kesepakatan berupa target-target bersifat mengikat terkait pengurangan gas rumah kaca, meskipun tetap akan dibahas. APEC tampaknya akan menyetujui sasaran “aspirasional” jangka panjang tentang pengurangan emisi, untuk menggantikan perjanjian internasional tentang perubahan iklim, yakni Protokol Kyoto, yang habis masa berlakunya pada 2012. Tiga anggota APEC, yakni AS, Tiongkok, dan Rusia, selama ini dikenal sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Sedangkan Australia selama ini merupakan eksportir batu bara terbesar. Aksi protes semakin meningkat bersamaan mulai diperketatnya langkah-langkah keamanan, terutama menjelang kedatangan Presiden AS George W Bush ke Sydney, Selasa (4/9).
Sebelumnya, pada Minggu (2/9), 12 aktivis Greenpeace ditangkap bersamaan dibukanya rangkaian pertemuan APEC di Sydney. Terhadap sebelas demonstran, polisi menjatuhkan dakwaan mereka telah melakukan aksi pengrusakan karena mengecat tulisan “Australian Mendorong Ekspor Batubara (Australia Pushing Export Coal)“, yang jika dicermati akronimnya berbunyi APEC, ke lambung kapal NSS Endeavor, ketika baru lepas sandar dari Newcastle, utara Sydney. Sedangkan demonstran yang ke-12 dijatuhi dakwaan melakukan navigasi yang membahayakan. Pemerintah Australia mengancam akan melakukan tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa. Sejumlah pejabat pada Senin (3/9) membela tindakan polisi yang memaksa tiga turis Jerman menghapus foto-foto di kamera mereka yang mengabadikan dinding pengamanan yang dibangun di Sydney terkait penyelenggaraan KTT. Tindakan polisi itu mungkin “berlebihan”, tetapi juga dianggap perlu karena para demonstran juga dilaporkan tengah mencari titik-titik kelemahan di tembok pengaman tempat mereka dapat melancarkan serangan. Demikian penjelasan Menteri Transportasi Negara Bagian New South Wales, John Watkins.Sekitar 3.500 polisi, yang didukung 1.500 personel militer dari pasukan khusus dan pasukan kontraterorisme, mulai memberlakukan zona tertutup di pusat Kota Sydney.

Perdagangan Bebas


Selain perubahan iklim, yang juga jadi agenda utama di KTT adalah perdagangan. Para pemimpin APEC direncanakan mendesak dihidupkannya kembali perundingan perdagangan dunia yang mengalami kebuntuan. Wakil Departemen Perdagangan Amerika Serikat Susan Schwab, Senin (3/9) mengungkapkan, keinginan membahas perdagangan global dapat membawa kembali pembicaraan itu ke jalur yang benar, jika negara-negara kaya dan miskin mau mempertimbangkan dua usul baru untuk menyelesaikan perbedaan pandangan mengenai hambatan-hambatan perdagangan. Schawb menjelaskan, usul yang diajukan WTO Juli lalu dimaksudkan untuk mengatasi kebuntuan mengenai subsidi AS, proteksi pertanian, dan tarif barang impor negara berkembang. Dia menolak menjelaskan terperinci usulan baru itu.
Tetapi menurut data yang ada, usulan tersebut salah satunya berbunyi, AS akan mengurangi subsidi pertanian antara US$ 13 miliar-US$ 16,4 miliar. Sementara negara berkembang, seperti Brasil, Tiongkok, dan India akan mengurangi tarif industri.
[AP/AFP/SMH/E-9/E-4]