Aktivis Bali Konsisten Tolak Eksplorasi Geothermal Bedugul

DENPASAR–MICOM (Jumat, 16 Desember 2011 09:20 WIB ): Upaya Kementerian ESDM untuk melakukan eksplorasi geothermal di kawasan hutan lindung Bedugul tetap ditolak aktivis lingkungan hidup Bali. Mereka khawatir eksplorasi tersebut bisa merusak daerah tutupan hutan, daerah resapan air yang mengairi tiga kabupaten di Bali.

Koordinator Dewan Daerah Walhi Bali Wayan Gendo Suardana, saat dikonfirmasi di Denpasar, Jumat (16/12) mengatakan, alasan Kementerian ESDM melakukan eksplorasi geothermal Bedugul untuk keamanan pasokan energi di Bali terutama demi keamanan pasokan listrik sangat tidak masuk akal.

“Hingga saat ini pihak Kementerian ESDM belum melakukan kajian yang mendalam tentang ancaman krisis listrik di Bali hingga 2025. Kajian atau analisis tentang ancaman krisis listrik saat ini sangat tidak masuk akal karena selama ini pasokan listrik di Bali relatif aman, tinggal mengoptimalkan apa yang sudah ada,” ujarnya.

Menurut Gendo, secara faktual pasokan listrik di Bali saat ini sebanyak 600 mw. Jumlah yang dipakai yang saat ini hanya mencapai 570-an mw saat puncak (penggunaan) listrik. Belum lagi, pembangunan Bali Crossing yang menghasilkan 1.500 mw. Ditambah lagi, pembangunan PLTG di Celukan Bawang dengan mengasilkan daya yang cukup besar mendekati 1.000 mw serta beberapa potensi lain yang bisa dikembangkan tanpa merusak lingkungan hidup atau membabat hutan dan sejenisnya.

Walhi Bali patut mempertanyakan tujuan eksplorasi di Bedugul kalau yang membutuhkan bukan masyarakat kecil tetapi demi kepentingan investasi kaum elite. Selama ini mestinya pihak terkait perlu juga memublikasikan jika pengguna listrik terbesar berasal dari industri pariwisata dan perhotelan di Bali.

Itu pun bila memaksimalkan seluruh potensi yang ada, sehingga tidak perlu melakukan eksplorasi geothermal yang bisa merusak lingkungan hidup. Bila eksplorasi itu terjadi, ancaman krisis air akan terjadi di depan mata. (OL/OL-10)

take from : Media Indonesia.com