WALHI Bali Terima Penghargaan Dari BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan piagam penghargaan kepada para organisasi/lembaga dan individu yang berperan serta memfasilitasi program kesiapsiagaan bencana, Wajib Latih Kesiapsiagaan Masyarakat (WLKM).

Lembaga fasilitator substansi WLKM tersebut adalah Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) UPN “Veteran” Yogyakarta, Paguyuban PASAG Merapi, Paguyuban JANGKAR Kelud dan KOBAR Bromo – Semeru. Sedangkan Lembaga fasilitator proses WLKM terdiri dari WALHI Bali, Pramuka Peduli, Orari Lokal Karangasem, IHDN Denpasar, PMI Bali, dan BPBD Karangasem.

Penghargaan tersebut diserahkan bersamaan dengan deklarasi Pasemetonan Jagabaya (Pasebaya) Gunung Agung di Wantilan Bupati Karangasem, Bali pada tanggal 17 November 2017 yang secara simbolis diserahkan kepada PSMB UPN “Veteran” Yogyakarta, WALHI Bali dan Pramuka Peduli.

“Penghargaan tersebut sebagai pengakuan atas keterlibatan WALHI Bali dalam penguatan kapasitas warga untuk kesiapsiagaan bencana. Penghargaan  tersebut akan mendorong WALHI Bali terus berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana alam maupun lingkungan yang juga menjadi perhatian WALHI Bali. Oleh karena itu bersama dengan para basis Bali tolak reklamasi Teluk Benoa yakni Forum Pemuda Karangasem dan ForBALI Klungkung termasuk Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Denpasar mengucapkan terima kasih kepada BNPB atas penghargaan yang diberikan ini”, ucap Direktur WALHI Bali, Suriadi Darmoko yang juga Koordinator Divisi Politik ForBALI.

Sementara itu, bagi Koordinator Program Studi Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, penghargaan yang diberikan BNPB kepada para fasilitator tersebut merupakan bentuk apresiasi, secara sukarela dan profesional telah mensukseskan proses belajar membangun kesiapsiagaan tersebut. Baginya, selain sebagai bentuk apresiasi, penghargaan tersebut juga merupakan tantangan untuk terus berkarya dan memberi pelayanan, khususnya bagi para fasilitator lokal yang ada di Bali. “Pelatihan formal dan informal selama tiga hari dalam satu desa di KRB, masih belum cukup.  Warga di kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung masih perlu mengejar ketertinggalannya dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Untuk itu, para fasilitator yang berasal dari Bali dapat mengambil peran untuk terus menularkan pengetahuan ataupun menggelar pelatihan kesiapsiagaan bencana di KRB bersama dengan warga setempat” ujar pakar kebencanaan yang juga Tim Ahli Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) tersebut.