Konsep pembangunan dengan Teknology berkelanjutan (sustainable)

Krisis ekonomi global menjadikan negara-negara di dunia menata ulang system dan konsep pembangunan mereka ke arah tatanan konsep teknology yang berkelanjutan dan dapat diperbaharui (sustainable). Hal ini terjadi di hampir seluruh negara – negara maju di kawasan Eropa, Amerika, juga Asia seperti Jepang dan Korea Selatan. USA bahkan mensyaratkan dimulainya produksi mobile bertenaga listrik (re-chargeable) dalam proposal subsidi dana talangan untuk intrustri otomotifnya yang hampir saja bangkrut. Jepang telah menggelontorkan besar-besaran dana pambangunan jangka panjang mereka utk mengairahkan kembali sector ekonomi kerakyatan yang semakin terpuruk. Korea Selatan melalui South Korean Lawmakers-nya telah menyetujui sekitar 33 trilliun Won (lebih dari Rp 250 trilliun) dalam paket stimulus ekonomi. Dari dana tanpa pajak itu hampir seluruhnya di focuskan di sektor re-construction effisien energy untuk public building, disamping menggairahkan (stimulate) sektor renewable resources energy yang juga menjadi target utama mereka. Untuk sektor ini, tidak kurang Hunday-heavy industri ikut menginvestasikan sebagian sahamnya guna mendanai research-research tentang solar energy yang diharapkan mampu menarik jutaan pengangguran di negara tersebut. Pengaktifan kembali ladang–ladang kering dan manjadikannya lahan siap tanam juga menjadi target program mereka untuk bioenergy resources baru.

Hal ini seharusnya menjadi tanda-tanya besar bagi kita, yang di satu sisi kita giat meninggalkan lahan-lahan produktif dan mangalihkan nya menjadi super store, pemukiman, industri modern dsb, namun di sisi lain mereka yang merasakan bahwa modernisasi pada akhirnya tidak mempu mengatasi krisis ekonomi global dan karenanya justru menghidupkan kembali lahan-lahan  tersebut dan menjadikannya natural resources baru.

Biomass dan Biogas
Lahan-lahan subur yg terbentang di seluruh wilayah Indonesia sebetulnya siap berkontribusi untuk system dan energy berkelanjutan ini. Konsep mengkonsumsi bioenergy bahkan sudah lama tumbuh dan menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat pedesaan di Jawa, Bali, Sumatra dan Kalimantan dll. Pemanfaatan jerami hasil panen, juga ampas batang tebu (dari pabrik) seharusnya bisa di olah secara modern dan profesional untuk menjadikan ribuan kilowatt energy listrik, baik melalui konsep biomass energy atau konsep biogas Energy. Energy biomass pernah di berdayakan oleh pemerintah Indonesia di th 1980-an melalui program ”briket batu-bara” namun Project itu menghilang ketika mengalami kendala dalam memasyarakatkannya, yg seharusnya terus di tingkatkan efficiency dan kualitasnya dan bahan bakunya perlahan di alihkan ke biomas. System ini telah permanent dilakukan di negara-negara balkan sepert Swedia yg menjadikan hutan kayu produksinya untuk export furniture and residu olahannya untuk biomass. China adalah salah satu negara dengan tingkat pemberdayaan biomas terbesar di dunia. Tercatat negara ini memanfaatkan 4.6 billion Giga Joule di tahun 2008 dan trus tumbuh pesat setiap tahunnya. Energy ini dimanfaatkan lebih dari 61% energy di rural area atau setara dgn satu per tiga total rata-rata energy nasionalnya. China bahkan telah membuka kawasan 170 ribu hektar di provinsi Guangdong untuk menanaman pohon yang siap di olah menjadi bahan baku biomass.
Seperti halnya biomas, energy biogas sangat berpotensi untuk di kembangkan di Indonesia. Pusat pembangkit listrik tenaga Biogas dengan kapasitas 500 kW belum lama ini telah di install di kawasan padat penduduk di sekitar pusat pasar tradisional di India selatan. Bahan baku system ini mutlak dari  puluhan Ton sampah organik pasar tersebut yang dihasilkan setiap harinya. Hanya saja kebiasaan memisahkan sampah organik dan sampah non-organik harus di upayakan bila system ini di aplikasikan di Indonesia. Energy biogas sebetulnya bukanlah teknology baru, namun kualitas, efficiency dan effektifitasnya harus terus di tingkatkan mengingat tidak sedikit tenaga ahli Indonesia yg seharusnya bisa diberdayakan sehubungan dengan hal ini. System biogas dengan kapasitas komersial cukup populer di kawasan rural area di India. Masyarakat secara bergotong royong membuat sepitank dan chamber (biasanya 2-3 keluarga ). System ini biasa di operasikan dengan kebutuhan 2-3 ember penuh kotoran sapi, kuda, atau sampah organik lainnya untuk dikonversi menjadi energy gas dan dapat digunakan untuk memasak selama 3-4 jam bagi  kelurga kecil.

Solar cell
Sumber energy ini sungguh berkembang sangat luarbiasa, dalam 5 tahun terakhir total produksinya di dunia mengalami peningkatan hampir 200%, dengan penurunan harga komersial hampir 70% menjadikan target USD $ 0.5 – 0.6 per Watt di tahun 2012 bukanlah mustahil untuk di capai mengingat USD $ USD $ 1 per Watt terinstall sudah dicapai di negara2 seperti German dan Spanyol pada saat ini. Dengan kebijakan subsidi tarif yang mensupport renewable energy dan membebankan biaya lingkungan pada fosil energy (minyak bumi) menjadikan renewable energy semakin murah pada saat yang akan datang dan tentunya batasan dan besarnya biaya karbon emisi yg dihasilkan suatu negara akan terus di tingkatkan menyebabkan lambat-laun fosil energy akan terus membumbung tinggi.
Indonesia dengan 81.000 Km garis pantai (kedua setelah kanada), dan rata-rata 500-550 kW/m2 total-horisontal solar irradiation di hampir seluruh kawasan Indonesia menjadikannya sumber energy yang tiada habisnya. Beberapa solar device material seperti amorphous silicon, cadmium telluride, Cuper Indium Galium selenide (CIGs) sudah jamak di produksi dengan biaya hampir 1/3 dari biaya produksi convensional material crystalline silicon menjadikan sumber energy solar device ini berpotensi paling cepat menggantikan kebutuhan dunia akan fosil energy di masa akan datang

Building energy-efficient
Konsep Eko-building telah menjadi tren dalam konsep pembagunan suatau gedung di dunia dalam 3-5 th belakangan ini, bahkan di negara-negara seperti UK, Jepang dan German telah meregister kreteria suatu gedung akan kebutuhan energynya. Bila suatu gedung di katagorikan di level A maka tingkat konsumsi energy nya sungguh rendah dan dapat di katagorikan hemat dan akan menjadi pilihan utama para konsumen. Desain energy type gedung seperti ini biasanya disamping dengan system wall cavity ( rongga diantara dinding tembok) yg sangat effektif menahan panas di saat musim dingin juga dilengkapi dengan system energy inegrated dimana solar panel yang memproduksi elektricity pada malam hari, akan terkoneksi ke national grid (semacam PLN di Indomesia) dan karenanya akan di bayarkan setiap watt yg dihasilkannya pada sianghari disaat pemiliknya tidak memakainya. Beberapa gedung dengan system Eco-building sebetulnya sudah di dirikan di jakarta di awal tahun 2009 dan tren ini akan terus meingkat seiring semakin mahalnya energy yg dikonsumsi suatu gedung serta begitu tingginya penghematan yg dapat di lakukan dengan konsep energy effisien ini.

Sudah saatnya kita bersama, para ahli, swata (investor), pemerintah dan masyarakat harus menyadari dan bersama kembali ke alam atau ’back to natural’ yang menjadikan satu-satunya solusi untuk bisa bertahan dan keluar dari krisis ekonomi global ini. Dengan konsep pembangunan dengan teknology berkelanjutan (sustainable) pemberdayaan kekayaan alam yang melimpah ini akan senantiasa terjaga dan lestari.

Ketut Astawa
Staff FT-UNUD
PhD student
CREST (Canter Renewable Energy System and Technology)
Electronic and Electrical Department
Loughborough University
Leicestershire-UK