• Home
  • about
  • contact
  • site map
24 Sep 2007

Sebagian Bali Terancam Tenggelam

Author: / Category: Terbaru

posted in Teknologi, Kabar Anyar contributor : admin

Oleh Anton Muhajir


Akibat pemanasan global (global warming), sebagian wilayah Bali terancam tenggelam. Parahnya lagi, kenaikan air laut hingga 6 meter itu mengancam daerah-daerah pusat kegiatan pariwisata.

Hal tersebut dikatakan Hira Jhamtani, aktivis Third World Network, jaringan negara ketiga yang terutama aktif di gerakan anti-globalisasi. Hira, yang sering mewakili lembaga swadaya masyarakat (LSM) di berbagai kegiatan internasional, menyatakan adanya ancaman itu pada diskusi yang digelar Koalisi LSM untuk perubahan iklim di Denpasar Bali hari ini.

Diskusi setengah hari di Gedung Nari Graha Renon Denpasar tersebut digelar Koalisi LSM di bidang lingkungan antara lain Yayasan Wisnu, Bali Organic Assosiation (BOA), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali, dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali. Menurut Nyoman Sri Widianti, Eksekutif Daerah Walhi Bali, diskusi itu merupakan upaya sosialisasi persoalan pemanasan global pada masyarakat.

Selain Hira, pembicara di diskusi yang dimoderatori I Wayan Juniartha, wartawan The Jakarta Post, itu adalah Gde Prama, Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, dan I Nyoman Sadra. Sebab tema diskusi yang dihadiri sekitar 200 peserta itu memang tentang menggali budaya lokal untuk mengantisipasi global warming. “Ini akan jadi masukan pada pertemuan PBB tentang perubahan iklim di Nusa Dua Desember nanti,” kata Aik, panggilan Sri Widianti.

Hira Jhamtani, yang pernah aktif di Institute for Global Justice mengungkapkan data bahwa akibat global warming juga mengakibatkan perubahan iklim (climate change). Mengutip pemberitaan Bali Post (16/08/07), dia mengatakan bahwa saat ini ada 140 titik abrasi dari 450 bentangan garis pantai di Bali. Fakta tersebut ditambah faktor adanya lahan kritis dan perubahan iklim akan mengakibatkan kenaikan air laut hingga 6 meter. Akibatnya, sebagian wilayah Bali pun terancam tenggelam pada 2030.

Wilayah yang terancam tenggelam itu memang terutama di bagian pinggir Bali seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Tanah Lot, Candi Dasa, Tulamben, Nusa Lembongan, Lovina, dan seterusnya. Namun jika tidak diantisipasi, maka kenaikan air laut itu juga bisa sampai menenggelamkan kota-kota lain yang ada di pinggir pantai termasuk Denpasar dan Singaraja. Melalui sebuah peta, Hira menunjukkan titik-titik di pinggir Bali yang rentan tenggelam tersebut.

Pemanasan global, lanjut Hira, adalah peningkatan suhu rata-rata bumi. Mengutip data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), peningkatan suhu bumi saat ini sekitar 0,6 derajat Celcius dibanding pada tahun 1750 lalu. “Kenapa perbandingannya tahun 1750 adalah karena itulah dimulainya Revolusi Industri yang mengakibatkan penggunaan energi secara besar-besaran,” kata alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Peningkatan suhu itu akan terjadi antara 1 hingga 1,5 derajat Celcius. Karena itu ada kesepakatan bersama antara negara-negara di dunia yang tergabung dalam IPCC bahwa suhu harus dibatasi maksimal 2 derajat Celcius. “Kenyataannya, itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan,” kata Hira.

Perubahan iklim, lanjutnya, adalah perubahan pola iklim dalam waktu tertentu yang mengakibatkan perubahan komposisi atmosfer global. Perubahan itu terjadi pada suhu udara, pola air hujan dan salju yang jatuh dari udara, cuaca dan musim, serta naiknya permukaan air laut. Hal ini terjadi langsung maupun tidak langsung akibat kegiatan manusia.

Secara ilmiah, iklim berubah akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca antara lain karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), metan (CH4), HCFC, ozon troposferik (O3), dan uap air. Gas rumah kaca itu sendiri sebenarnya terjadi secara alami untuk menangkap radiasi matahari sehingga membuat suhu dan iklim bumi stabil. Namun akibat terlalu banyaknya gas rumah kaca, radiasi matahari pun makin banyak sehingga suhu bumi pun makin hangat.

“Gas rumah kaca meningkat akibat emisi dari penggunaan bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan listrik serta perubahan dalam tata guna lahan dan penggundulan hutan,” kata Hira yang sekarang tinggal di Batubulan, Gianyar tersebut.

Mengutip data World Resources Institute Climate Analysis Indicator Tools, hingga tahun 2000 lalu, ada 42 giga ton gas CO2 di atmosfir. Listrik (24 persen) adalah sumber emisi gas rumah kaca paling besar disusul tata guna lahan (18 persen), industri (14 persen), transportasi (14 persen), pertanian (14 persen), bangunan (8 persen), terkait energi lain (5 persen), dan limbah (3 persen).

Secara per kapita, Amerika Serikat adalah negara yang paling banyak menghasilkan emisi gas rumah kaca. “Orang Amerika menggunakan pendapatan dan daya beli per kapita delapan kali lebih besar dan melepaskan proporsi CO2 lebih tinggi dibandingkan orang di tempat lain,” urai Hira. Setelah Amerika, negara lainnya adalah Australia, Kanada, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Selandia Baru, Malaysia, Hong Kong, dan Thailand. Data ini hanya untuk emisi CO2.

Namun untuk keseluruhan emisi gas rumah kaca, negara paling banyak tetap Amerika Serikat. Berturut-turut setelah itu kemudian Uni Eropa, Cina, Indonesia, Brazil, Rusia, Jepang, India, Kanada, Meksiko, Korea Selatan, dan Afrika Selatan. “Kalau faktor kebakaran hutan tidak dihitung, pembuangan emisi gas rumah kaca di Indonesia sebenarnya kecil, mungkin di bawah Korea Selatan,” kata Hira.

Berangkat dari data-data di atas, menurutnya, saat ini sedang terjadi ketidakadilan iklim global. “Negara-negara maju adalah penghasil emisi gas rumah kaca paling besar di dunia saat ini. Namun dampaknya justru dirasakan negara-negara miskin,” tegas Hira.

Dampak itu bisa dilihat dari data di perusahaan Asuransi Swiss Re bahwa 90 persen bencana terkait perubahan iklim justru terjadi di Asia. Misalnya berupa banjir di India, gelombang besar di Jepang, dan badai di berbagai negara. Jika ini tidak diantisipasi, ada kemungkinan bahwa pada 2050 akan terjadi kebanjiran tiap tahun di Asia dan Afrika yang mengakibatkan pengungsian besar-besaran hingga 200 juta orang. “Itu pengungsi yang jauh lebih besar dibandingkan korban perang,” kata Hira.

Indonesia pun sudah mengalami dampak perubahan iklim tersebut. Misalnya kenaikan air di Teluk Jakarta setinggi 57 mm tiap tahun. Daerah lain di Indonesia, termasuk Bali, pun mengalami hal yang tak jauh berbeda.

Di Bali, daerah-daerah yang rentan mengalami dampak global warming itu terutama pada daerah pantai. Sebagai contoh, seperti pernah disebut Iwan Dewantama dari WWF Bali Barat, di perairan Pulau Menjangan dan Taman Nasional Bali Barat lainnya terjadi coral bleaching (pemutihan terumbu karang), yang salah satu sebabnya adalah kenaikan suhu air laut.

Jika terumbu karang sudah rusa, maka ekosistem pantai akan erosi. Atau tidak usah jauh-jauh lah. Sehari-hari pun cuaca sudah terasa tidak jelas. Bisa saja terjadi panas berlebihan pada bulan yang seharusnya sudah musim hujan. Atau sebaliknya, bisa hujan deras pada bulan yang seharusnya musim panas. Karena itu ada joke bahwa Indonesia pun saat ini punya empat musim: hujan, kemarau, hujan pada musim kemarau, dan kemarau pada musim hujan.

Lalu bagaimana Bali mengantisipasinya?

Ida Pedanda Tianyar Arimbawa mengatakan umat Hindu Bali sebenarnya sudah mampu menyikapi perubahan iklim secara sekala dan niskala. Secara sekala (alam nyata) melalui penghormatan terhadap alam. Sedangkan secara niskala (alam tak nyata) melalui upacara keagamaan sesuai sasih, tahun, serta situasi alam sesuai wariga (penanggalan) sebagai pedoman membaca perubahan cuaca dan musim.

“Namun dalam praktiknya, tidak sedikit pula upacara yang malah mendukung terjadinya kerusakan secara langsung maupun tidak,” katanya. Pedanda yang juga aktif menolak pembangunan geothermal di Bedugul itu memberi contoh bagaimana setelah upacara justru banyak sampah di sekitar lokasi upacara. Selain itu perilaku tidak hemat ketika upacara juga mendukung komersialisme sebagai salah satu sumber terjadinya kerusakan lingkungan.

Hal senada dikatakan I Nyoman Sadra, Kepala Ashram Gandhi Candi Dasa Karangasem. “Masa orang upacara saja harus pakai buah impor dari Selandia Baru dan Australia. Padahal transportasi untuk impor kan salah satu sumber pembuangan emisi gas rumah kaca,” kata mantan Kepala Desa Tenganan yang kini jadi penerus Ibu Gedong Bagoes Oka tersebut.

Sadra menambahkan bahwa kearifan budaya lokal Bali melalui konsep zonasi, ritual, dan awig-awig sudah menyadari perlunya menjaga keberlangsungan lingkungan. “Tapi kita yang justru sekarang merusaknya,” kata Sadra. [b]

(Sumber: http://www.balebegong.net)

Comments (0)  :  Add Comment
18 Sep 2007

Pemanasan Global Picu Konflik Antar Negara

Author: / Category: Terbaru

Konsulat Bidang Politik Kedutaan Besar Inggris, Piers Cazalet, mengatakan pemanasan global tidak hanya menyebabkan bencana alam yang dahsyat, tapi juga dapat menyebabkan konflik besar di dunia.”Perubahan iklim akan memperparah konflik yang sudah ada dan menciptakan konflik baru di dunia,” katanya dalam Seminar Global Warming: Implikasi Sosial Ekonomi dan Keamanan Dunia di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (15/05).Menurut dia, naiknya permukaan laut akibat pemanasan global dapat membuat batas antarnegara menjadi tidak jelas. Hal ini, katanya, berpotensi melahirkan konflik antarnegara. Selain itu, naiknya air laut juga mengakibatkan jutaan orang yang tinggal di wilayah pesisir akan bermigrasi. Perpindahan penduduk ini, dia menambahkan, sangat mungkin melahirkan konflik. “Tujuh tahun lalu di Bangladesh terjadi bencana besar. Banyak penduduk yang bermigrasi ke India sehingga melahirkan konflik di sana,” katanya mencontohkan.Persediaan energi dan ketersediaan air bersih yang semakin menipis, katanya, sebagai akibat pemanasan global juga bisa menjadi sumber pemicu konflik. Dia kembali mencontohkan dalam beberapa tahun ke depan, kapasitas air Sungai Nil akan berkurang hingga 80 persen akibat pemanasan global. Meskipun masing-masing negara mengurangi emisi, katanya, pemanasan global tetap akan terjadi. “Kami melalui duta besar telah meminta Perserikatan Bangsa Bangsa untuk lebih fokus menangani masalah ini,” katanya.
diposting dari Tempo interaktif,19 september 2007: 11.35

Comments (0)  :  Add Comment
14 Sep 2007

Lembar Informasi No. 1

Author: / Category: Terbaru

KETIKA SELIMUT BUMI MAKIN TEBAL:

Sekilas tentang Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Apa itu Pemanasan Global?

Pemanasan Global adalah proses kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi. Ada petunjuk hal itu terjadi akibat peningkatan jumlah emisi (buangan) Gas Rumah Kaca (GRK) di udara.

Panel antar pemerintah mengenai perubahan iklim atau Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)* melaporkan bahwa suhu rata-rata permukaan bumi meningkat sekitar 0.6°C pada abad ke-20 dibandingkan suhu pada tahun 1750, saat awal proses industrialisasi. Angka 0.6°C nampaknya merupakan perubahan yang kecil. Namun perubahan kecil itu mulai menimbulkan dampak yang merugikan bagi kehidupan kita.

Apa Penyebab Pemanasan Global ?

Pemanasan Global terjadi karena peningkatan jumlah Gas Rumah Kaca (GRK) di lapisan udara dekat permukaan bumi (atmosfer). Gas tersebut memperangkap panas dari matahari sehingga menyebabkan suhu bumi lebih panas daripada suhu normal.

Apa Itu Gas Rumah Kaca (GRK)?

Gas Rumah Kaca (GRK) adalah gas di udara pada lapisan permukaan bumi yang memungkinkan sebagian panas dari matahari ditahan di permukaan bumi. Secara alami gas-gas rumah kaca ini juga memancarkan kembali panas matahari agar tidak semuanya diserap bumi tetapi juga agar sebagian diserap bumi. Dengan demikian gas rumah kaca membuat suhu di bumi pada titik yang layak huni bagi makhluk hidup. GRK secara alami juga menjaga agar iklim menjadi stabil.

Namun meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca akan menyebabkan pemanasan global. GRK terdiri dari beberapa unsur, diantaranya :
• Karbon dioksida (CO2), dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil (seperti minyak bumi dan batubara) untuk mendapatkan energi, serta kebakaran hutan dan lahan.
• Nitrogen oksida (NOx), dihasilkan dari penggunaan pupuk kimia pada pertanian.
• Metan (CH4) dihasilkan dari pembusukan sampah yang tidak dikelola dengan baik, tanaman padi sawah dan ternak.

Mengapa Emisi Gas Rumah Kaca Meningkat?

Emisi GRK berasal dari kegiatan manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam). Pembakaran bahan bakar fosil sebagai sumber energi untuk listrik, transportasi, dan industri akan menghasilkan karbondioksida dan gas rumah kaca lain yang dibuang ke udara. Proses ini meningkatkan efek rumah kaca. Emisi yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil menyumbang 2/3 dari total emisi yang dikeluarkan ke udara. Sedangkan 1/3 lainnya dihasilkan kegiatan manusia dari sektor kehutanan, pertanian, dan sampah.

Pada tahun 2000 buangan total di atmosfer mencapai 42 miliar ton (Gigaton) setara karbondioksida. Satu liter bensin mengeluarkan buangan 2,4 kg setara CO2.

Siapa Penghasil Emisi terbesar?

Negara-negara maju adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Menurut data dari PBB, urutan beberapa negara penghasil emisi karbondioksida per kepala per tahun sebagai berikut:
– Amerika Serikat 20 ton
– Kanada dan Australia 18 ton
– Jepang dan Jerman 10 ton
– China 3 ton
– India 1 ton
– Afrika >1 ton

Kebakaran hutan dan lahan juga melepaskan karbondioksida dalam jumlah cukup besar, seperti yang terjadi di Indonesia hampir setiap tahun terutama bila kebakaran sangat luas seperti pada tahun 1997.

Gambar 2 menunjukkan bahwa buangan dari sektor energi di negara berkembang jauh lebih kecil daripada di negara maju. Tetapi bila digabungkan dengan sektor non energi (perubahan tata guna lahan dan penggundulan hutan) maka angka buangan di negara berkembang juga cenderung tinggi walaupun tetap tidak setinggi di negara maju. Angka untuk sektor non energi masih jadi perdebatan. Indonesia, misalnya, memang menyumbangkan emisi yang cukup tinggi saat terjadi kebakaran hutan, tapi emisi ini terjadi secara musiman dan perhitungannya belum bisa dipastikan. Walaupun demikian, kebakaran hutan dan lahan tetap harus dicegah demi menjaga kelestarian ekosistem dan mencegah pencemaran udara untuk kepentingan masyarakat Indonesia sendiri.

Apa itu Perubahan Iklim?

Perubahan Iklim adalah perubahan pola perilaku iklim dalam kurun waktu tertentu. Ini bisa terjadi karena efek alami. Namun, saat ini yang terjadi adalah perubahan iklim akibat kegiatan manusia. Perubahan iklim adalah perubahan dalam kandungan gas-gas yang terkandung dalam atmosfer global akibat peningkatan emisi gas rumah kaca. Perubahan iklim mencakup perubahan dalam pola curah hujan, tekanan udara, pola angin dan suhu permukaan bumi.

Apa hubungan antara Pemanasan Global dan Perubahan Iklim ?

Salah satu akibat dari pemanasan global adalah pencairan gunung-gunung es di kedua kutub bumi. Hal ini berakibat langsung pada pola tekanan udara, volume air dan pergerakan ombak di laut sehingga mempengaruhi cuaca*. Pemanasan global juga meningkatkan radiasi matahari sehingga bisa mengganggu kestabilan iklim bumi.

Apa Dampak Perubahan Iklim?

Perubahan iklim menimbulkan perubahan pada pola musim sehingga menjadi sulit diprakirakan. Pada beberapa bagian dunia hal ini meningkatkan intensitas curah hujan yang berpotensi memicu terjadinya banjir dan tanah longsor. Sedangkan belahan bumi yang lain bisa mengalami musim kering yang berkepanjangan, karena kenaikan suhu.

Menurut perusahaan asuransi Swiss Re, 90% dari bencana terkait iklim terjadi di Asia. Pola cuaca akan menjadi ekstrim – kemungkinan cuaca panas sekali, gelombang panas, dan hujan lebat akan lebih sering terjadi. Selain itu, badai siklon tropis kemungkinan lebih intensif, disertai angin kencang dan hujan deras.

Selanjutnya perubahan iklim akan berdampak pada kehidupan kita seperti:
 Ketahanan Pangan Terancam – Produksi pertanian tanaman pangan dan perikanan akan berkurang akibat banjir, kekeringan, pemanasan dan tekanan air, kenaikan air laut, serta angin yang kuat. Perubahan iklim juga akan mempengaruhi jadwal panen dan jangka waktu penanaman. Diperkirakan 65 negara berkembang akan kehilangan sekitar 280 juta ton potensi produksi sereal. Peningkatan suhu 10C diperkirakan menurunkan panen padi 10%.

 Dampak Lingkungan – Banyak jenis makhluk hidup akan terancam punah akibat perubahan iklim dan gangguan pada kesinambungan wilayah ekosistem (fragmentasi ekosistem). Terumbu karang akan kehilangan warna akibat cuaca panas, menjadi rusak atau bahkan mati karena suhu tinggi. Para peneliti memperkirakan, melalui simulasi model komputer, bahwa 15% – 37% dari seluruh spesies dapat menjadi punah di enam wilayah bumi pada 2050. Keenam wilayah yang dipelajari mewakili 20% muka bumi.

 Risiko Kesehatan – Cuaca yang ekstrim akan mempercepat penyebaran penyakit baru dan bisa memunculkan penyakit lama. Badan Kesehatan PBB memperkirakan bahwa peningkatan suhu dan curah hujan akibat perubahan iklim sudah menyebabkan kematian 150.000 jiwa setiap tahun. Penyakit seperti malaria, diare, dan demam berdarah diperkirakan akan meningkat di negara tropis seperti Indonesia.

 Air – Ketersediaan air berkurang 10% – 30% di beberapa kawasan terutama di daerah tropik kering. Kelangkaaan air akan menimpa jutaan orang di Asia Pasifik akibat musim kemarau berkepanjangan dan intrusi air laut ke daratan.

 Ekonomi – Kehilangan lahan produktif akibat kenaikan permukaan laut dan kekeringan, bencana, dan risiko kesehatan semuanya mempunyai dampak pada ekonomi. Sir Nicolas Stern, ekonom dari Bank Dunia mengatakan bahwa dalam 10 atau 20 tahun mendatang perubahan iklim akan berdampak besar terhadap ekonomi. Walaupun tindakan mencegah dampak perubahan iklim sudah terlambat, Stern mengatakan bahwa dunia harus berupaya mengurangi emisi dan membantu negara-negara miskin untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim demi kelangsungan pertumbuhan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa dibutuhkan investasi sebesar 1% dari total pendapatan dunia untuk mencegah hilangnya 5% – 20% pendapatan di masa mendatang akibat dampak perubahan iklim.

 Dampak sosial, budaya dan politik. Bencana terkait perubahan iklim akan meningkatkan jumlah pengungsi di dalam suatu negara maupun antar negara. Proses mengungsi ini membuat orang menjadi miskin dan tercerabut dari aka sosial dan budaya mereka, terutama hubungan dengan tanah leluhur dan kearifan budaya mereka. Di sisi lain, krisis pangan, air dan sumberdaya, serta peningkatan jumlah pengungsi akan menimbulkan konflik horizontal sehingga bisa memicu konflik politik di dalam negara maupun antar negara.

Siapa paling menderita?

Seluruh dunia akan merasakan dampak perubahan iklim. Tetapi negara dan masyarakat miskinlah yang paling rawan terkena dampaknya. Dampak perubahan iklim tidak dipikul dengan adil. Negara kepulauan kecil dan negara berkembang lain yang merupakan penyumbang terkecil pada emisi GRK, justru yang akan mengalami dampak paling besar dan paling tidak siap menghadapi perubahan iklim. Sebagai contoh, negara-negara pulau kecil di Pasifik hanya menyumbankgan 0,06 % dari total emisi seluruh dunia, tapi akan menjadi korban paling pertama akibat naiknya permukaan air laut. Demikian pula, masyarakat pesisir yang paling miskin yang akan menjadi korban terlebih dahulu. Diperkirakan 200 juta orang akan menjadi pengungsi akibat bencana iklim pada 2050, sebagian besar di antaranya adalah masyarakat miskin di pesisir dan kelompok petani di negara sedang berkembang.

Bagaimana di Indonesia?

Belum ada data komprehensif mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia. Namun beberapa data menunjukkan bahwa:

 Suhu rata-rata tahunan menunjukkan peningkatan 0,30C sejak tahun 1990.

 Musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah hujan lebih intensif sehingga meningkatkan risiko banjir. Pada 2080 diperkirakan sebagian Sumatera dan Kalimantan menjadi 10-30% lebih basah pada musim hujan; sedangkan Jawa dan Bali 15% lebih kering.

 Variasi musiman dan cuaca ekstrim diduga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Selatan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi (CIFOR 2004)

 Perubahan pada kadar penguapan air, dan kelembaban tanah akan berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Perubahan iklim akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2% sampai dengan 8%, diperkirakan akan mengurangi panen padi sekitar 4% per tahun, kacang kedelai sekitar 10%, dan jagung sekitar 50%.

 Kenaikan permukaan air laut akan mengancam daerah dan masyarakat pesisir. Sebagai contoh air Teluk Jakarta naik 57 mm tiap tahun. Pada 2050, diperkirakan 160 km2 dari kota jakarta akan terendam air, termasuk Kelapa Gading, Bandara Sukarno-Hatta dan Ancol (Susandi, Jakarta Post, 7 Maret 2007).

Di Bali kerusakan lingkungan pada 140 titik abrasi dari panjang panti sekitar 430 km. Laju kerusakan pantai di Bali diperkirakan 3,7 Km per tahun dengan erosi ke daratan 50-100 meter per tahun (Bali Membangun, 2004). Kerusakan ini ditambah potensi dampak dari perubahan iklim diduga akan menyebabkan muka air laut naik 6 meter pada 2030, sehingga Kuta dan Sanur akan tergenang (Bali Post, 16 Agustus 2007). Hal ini mengancam keberlangsungan pendapatan dari pariwisata yang mengandalkan kekayaan dan keindahan pantai dan laut di Bali.

 Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi risiko kehilangan banyak pulau-pulau kecilnya dan penciutan kawasan pesisir akibat kenaikan permukaan air laut. Wilayah geografis Indonesia akan berkurang dan akan ada pengungsi dalam negeri.

 Dampak kenaikan muka air laut akan mengurangi lahan pertanian dan perikanan, yang pada akhirnya akan menurunkan potensi pendapatan rata-rata masyarakat petani dan nelayan. Kerusakan pesisir dan bencana yang terkait dengan hal itu akan mengurangi pendapatan negara dan masyarakat dari sektor pariwisata. Sementara itu, negara harus menaikkan anggaran untuk menanggulangi bencana yang meningkat, mengelola dampak kesehatan, dan menyediakan sarana bagi pengungsi yang meningkat akibat bencana. Industri di kawasan pesisir juga kemungkinan besar akan menghadapi dampak ekonomi akibat permukaan air laut naik. Kesemuanya ini akan meningkatkan beban anggaran pembangunan nasional dan daerah.

Dampak-dampak ini memang sering dikatakan sebagai ”diperkirakan”. Tetapi perubahan pola cuaca, intensitas hujan dan musim kering, serta peningkatan bencana sudah mulai kita rasakan sekarang, tidak perlu menunggu 2030 atau 2050. Kalau peningkatan suhu rata-rata bumi tidak tidak dibatasi pada 20C maka dampaknya akan sulit dikelola manusia maupun alam!

Ketika bumi mengalami suhu tinggi tapi selimutnya makin tebal, …. masa depan umat manusia terancam.

Sumber informasi

Bali Post, 16 Agustus 2007.
Climate Change, A CAP (Consumers Association of Penang) Guide.
Godrej, Dianyar. 2001.
The No-Nonsense Guide to Climate Change
Jakarta Post, 7 Maret 2007.
Stern Review on The Economics of Climate Change
PEACE, 2007.
Ringkasan Eksekutif. Indonesia dan Perubahan Iklim : Status Terkini dan Kebijakannya.
World Resources Institute. 2007. Climate Analysis Indicators Tool (WRI-CAIT) Version 4.0.

Catatan*:
IPCC – panel antar pemerintah tentang perubahan iklim, sebuah lembaga internasional, terdiri dari para ahli dan utusan pemerintahan, yang secara berkala mengkaji pemanasan global, perubahan iklim, dampaknya serta menyarankan langkah-langkah untuk mengatasinya. Ini adalah lembaga yang otoritasnya diakui sebagian besar negara di dunia.

Iklim : Pola cuaca yang terbentuk dalam jangka waktu panjang misalnya 30-100 tahun. Contoh: iklim tropis, sub-tropis, iklim panas, iklim dingin.

Cuaca : gejala alam yang terjadi dan berubah dalam waktu singkat. Contoh: suhu, angin, dll. Cuaca di kawasan tertentu sulit untuk diramalkan secara detail dari minggu ke minggu. Sementara, pola cuaca selama bertahun-tahun (iklim), lebih mudah untuk diketahui, dimengerti dan diramalkan

Jangan ketinggalan … fact sheet selanjutnya:

Fact sheet NO. 2 MEMAHAMI KESEPAKATAN IKLIM INTERNASIONAL
Fact Sheet No. 3 Apa yang Bisa Dilakukan Menghadapi Dampak Perubahan Iklim?
Fact Sheet No. 4. Pesan Kearifan Bali untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

dirangkum oleh Hira Jhamtani dan Kadek Lisa masukan dari Agung Wardana untuk Kolaborasi Bali Climate Change.

Jika Anda tertarik dan ingin mengetahui informasi lebih lanjut tentang Perubahan Iklim dan Pemanasan Global, silakan menghubungi

Bali Kolaborasi Climate Change merupakan forum yang terdiri dari organisasi non-pemerintah dan eksponen masyarakat sipil yang berjuang untuk mengkampanyekan nilai-nilai Nyepi sebagai salah satu solusi yang adil dan murah untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Forum ini pertama kali dibentuk oleh empat organisasi non pemerintah, yakni: Yayasan WISNU, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali dan Bali Organic Association (BOA).

Comment (1)  :  Add Comment
« Previous
    • TOLAK Bali International Park
  • PIC Badges #TolakBIP

  • Tulisan & Berita #TolakBIP

    • - Walhi rejects APEC infrastructure plans over green zone fears
    • - Haruskah Bali Dikorbankan Demi APEC XXI?
    • - (Bius) megaproyek Bali International Park melanda Bali
    • - WALHI Rejects Bali International Park Development
    • - Say No to Bali International Park!
    • - Flashback Investor yang akan membangun Bali International Park
  • Archives

    • February 2013
    • January 2013
    • November 2012
    • October 2012
    • August 2012
    • May 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • May 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • August 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • February 2010
    • July 2009
    • January 2009
    • September 2008
    • August 2008
    • July 2008
    • June 2008
    • May 2008
    • March 2008
    • February 2008
    • January 2008
    • December 2007
    • November 2007
    • October 2007
    • September 2007
    • August 2007


(c)walhibali.org 2011 | Design by: rahaji.com | Entries (RSS)